Amunisi si “Pelindung Rakyat”
Gemerlap benderang menusuk sunyi malam
Bukan bintang,
Bukan yang indah
Namun senjata, di tangan yang berjabat
Percik api di penghujung malam
Bising dentum di subuh hari
Lagi-lagi opresi
Lagi-lagi hilang nyawa di tangan dingin
Menjunjung hak asasi manusia, koar-koarnya
Melindungi rakyatnya, kata kampanyenya
Tapi apa, bentuk nyatanya?
Kami tunggu, janji-janjinya
Baik, kami menyerah
Tak kunjung datang janji-janjinya
Tapi wajibkah menghabisi nyawa kaum kita?
Kami ini rakyat!
Sekali lagi, kami ini rakyat
Hak kami, kami paham
Hidup mati kami, kami yang tentukan
Brutalitas ABRI? Buat apa?
Kalau ini jelas kami tidak terima
Gerombol warna-warni kami hanya menuntut satu tujuan
Satu hati kami mahasiswa,
Dengar kami, kami tidak terima!
Malam itu kelam
Namun bising bagai seribu lebah di taman
Almamater yang menjadi identitas eksistensi kami
Malah menjadi identitas kaum pantas diopresi
Brutal! Brutal semua ABRI kami!
Senjata lengkap bersepatu baja
Peluru penuh, pelindung dada
Siap serang, tapi siapa?
Tak asing memang, mendengar mereka membantai kita
Tapi miris, apa mereka takut kita?
Seolah sia-sia profesi mereka
Seolah sia-sia alokasi untuk mereka
Kami tangan kosong, kalian tangan besi!
Kalian takut, dengan eksistensi kami?
Katanya, pelindung kami
Lantas, mengapa merenggut nyawa kami?

No comments:
Post a Comment